Loading...

Sabtu, 25 Agustus 2012

AULIA BATU AMPAR 1-3


1.Seorang SAYYID terhormat dan bersahaja tinggal di sebuah kawasan asri Tanjung Bumi Kecamatan Sakobenah kabupaten Bangkalan Madura Beliau membawa misi da’wah menyebarkan ajaran Allah SWT sebagai penerus para Nabi. SAYYID Husein akrab di panggil seorang da’i dari JAWA keturunan Maulana Makdum bin Raden Rahmat Sunan Ampel dari sinilah awal sejarah Bani Batu Ampar di mulai.
Takdir Allah SWT membawa sebuah fitnah yang membuat SAYYID di kabarkan sedang menyusun kekuatan untuk memberontak kepada raja Bangkalan akhirnya terjadilah eksekusi pemerintah kerajaan disebabkan hasutan sebagian orang yang dengki kepada karamah sang Wali. Beliau yang terhormat dengan kuasa Allah SWT telah merasakan isyarah dekatnya ajal dari Allah, namun dengan hati tenang dan tawakkal Beliau menantinya hingga Beliau tereksekusi di mushalla-nya, namun sebelum eksekusi terjadi Beliau telah siap dengan memerintahkan putra-putra keturunannya menyelamatkan diri untuk meneruskan perjuangan dan da’wahnya. Diantara yang tertakdir selamat diantarra putra putrinya adalah SAYYID Abdurrahman.
Sepeninggal SAYYID Husein yang meninggal membawa duka bagi masyarakat. Akhirnya raja mengetahui kenyataan sesungguhnya bahwa SAYYID tidak terbukti bersalah, tapi rajalah yang termakan hasutan pendengki, karena itulah raja amat menyesal dan menggelari SAYYID sebagai orang yang di Pertuankan oleh kerajaan dan di beri gelar “Bujuk Batu Sangkah”.
Salah satu keturunannya yang berhasil selamat, yaitu SAYYID Abdurrahman tinggal di desa Bire Sokobenah Sampang Madura. Beliau seorang Alim yang berda’wah meneruskan jejak sesepuhnya. Masa itu bersamaan dengan infasi penjajah, banyak para pejuang dan ulama’ di tangkap karena di anggap berbahaya, maka untuk menyelamatkan misi da’wah bagi para penerusnya SAYYID Abdurrahman memerintahkan putra-putranya untuk menyebar berjuang dan berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Diantara putra-putra Beliau yaitu SAYYID Ali Rustam ( Bujuk Nyamplong Nage Sareh), SAYYID Hamzah Dusun Nangkrenang Karang Gejem Omben sampang, dan SAYYID Abdul Mannan.
Karena dorongan ketidakamanan saat itu SAYYID Abdul Mannan akhirnya ber’uzlah ( menyepi ) untuk ber konsentrasi memohon kekuatan dan petunjuk kepada Allah SWT guna kebaikan ummat dan para keturunan serta pengikutnya. Di pilihlah sebuah bukit sepi di daerah Pamekasan yang sekarang di kenal dengan daerah Batu Ampar. Beliau bertafakkur, bertadlarru’ dan senantiasa berzikir tanpa henti untuk mencapai kedekatan kepada Allah SWT. Di bawah sebuah pohon di bukit yang sepi hingga tanpa terasa Beliau sampai lupa pada keadaannya. Mencapai fana dalam cinta, seperti kisah para Ashabul Kahfi dalam pelarian Allah tidurkan hingga 3 setengah abad.
Waktupun berlalu, hingga 45 tahun berlalu SAYYID Abdul Mannan menyatu dalam tafakkurnya. Di kisahkan tubuh Beliau hingga tak trlihat karena tertutup akar tanaman yang menaunginya maasyaa Allah. Sungguh besar kuasa-Nya.
Suatu hari ada seorang wanita salah satu anak dari penduduk desa itu menuju tempat bertafakkurnya SAYYID Abdul Mannan. Wanita ini biasa mencari kayu ke hutan-hutan untuk kebutuhan ayah ibunya. Wanita ini mempunyai wajah dan tubuh yang tidak bagus di pandang mata, karena mempunyai penyakit kulit yang menyeluruh di seluruh tubuhnya. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain berparas ayu dan tidak penyakitan.
Melihat ada kayu belukar rimbun, timbullah niat untuk memotongnya untuk dijadikan kayu bakar. Setelah kayu-kayu semak itu sebagian telah di potongnya, wanita tersebut terkejut karena dalam rimbunan semak itu ada makhluk aneh serupa manusia tapi sudah tidak karuan rupanya. Dia menjerit dan lari ke rumah melaporkan kepada ayahnya bahwa ada mayat di tengah hutan. Dia mengira bahwa yang ditemukan telah mati karena tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Maka berangkatlah mereka kesana. Singkat cerita di bawalah tubuh SAYYID yang tidak sadarkan diri itu ke rumah penduduk tersebut. Setelah di periksa ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan karena masih ada detak jantungnya. Segala usaha belum bisa membangunkannya lalu di bersihkanlah tubuh SAYYID itu dan di adzani ternyata beliu bangun sadarkan dari tidurnya. Subhaanallah.
Setelah beberapa hari kesehatan SAYYID Abdul Mannan pulih kembali. Lalu Beliau berkisah tentang asal usul dan perjalanannya. Maka hormatlah dan amat bahagia penduduk itu karena telah menyelamatkan orang shalih seperti Beliau. Sebagai ungkapan syukur penduduk itu menyarankan agar SAYYID memilih salah satu putrinya untuk di persunting menjadi istri. Wal hasil SAYYID memilih putri penduduk tersebut yang berwajah jelek karena alasan telah berjasa menolongnya. Padahal putri-putri yang lainnya ayu dan cantik parasnya.
Di saat itulah karamah SAYYID di nampakkan oleh Allah SWT. Setelah putri berwajah jelek itu mandi air sumber yang Beliau keluarkan dengan idzin allah dari cabutan tongkatnya, Allahu akbar wajahnya berubah menjadi seorang yang amat cantik jelita mengalahkan wajah cantik putri-putri yang lainnya, maka berbahagialah kedua pasangan itu bahkan kecantikan istri SAYYID sampai di dengar dan membuat iri raja Sumenep kala itu.
Karena keramahan dan kemulyaannya Beliau di juluki “BUJUK KASAMBIH”. Makamnya tetap harum hingga akhir hayatnya sebagai Auliya dan kekasih Allah SWT yang mulia. Hingga kini makamnya menjadi tujuan favorit para penziarah di Pulau Madura. Di kenal dengan kawasan makam para wali “BATU AMPAR”.
Sebagai ulama besar, Beliau tidak berhenti hingga di situ. Beliau didik putra-putra Beliau untuk meneruskan perjuangannya menerangi umat dengan cahaya Islami di antara putra Beliau yang terkenal yaitu SAYYID Batsaniyah Beliau seorang alim dan penuh karamah, Beliau terkenal dengan nam “BUJUK TOMPENG”, dimakamkan di komplek pemakaman Batu Ampar, Pamekasan, Madura. Putranya yang lain dan juga penuh karamah yaitu SAYYID Muhammad Faqih bergelar “BUJUK TODUNGIH”, juga putra Beliau SAYYID Abdr Rahman yang di kenal dengan julukan “BUJUK MURANAH” Pangarengan Sampang.
Dari keturunan Beliau yang juga berprestasi dan tak kalah harumannya dikenal dengan nama Abu Syamsuddin bin Batsaniyah Tompeng. Beliau terkenal dengan nama julukan “BUJUK LATHONG”. Beliau telah hafal Alquran sejak kecil, alim dan allamah penuh karamah. Di antara murid Beliau yang sukses yaitu kayai Itsbat pendiri Pondok Pesantren Banyu Anyar, yang menjadi cikal bakal Pesantren besar di Jawa Timur semisal Pesantren Betet, Pesantren Bata-Bata Pamekasan, Pesantren Nurul Jadid Paiton, Pesantren Bulugading Jember dan banyak lagi pesantren yang lain.
Demikian riwayat tentang kemulyaan dan ketinggian nasab Beliau para Sholihin Bani Batu Ampar. Insya Allah selanjutnya kami akan publikasikan silsilah Bani Batu Ampar hingga ke Rasulullah SAW. Salam pemerhati ziarah spiritual Pulau Madura.


2. Pak Sakerah, Jawara Tanah Madura Tanpa Tanding.
Asma’ pamungkas dan terkenal di belantara Jawa Dwipa warisan Nabi Khidir yang telah berumur ribuan tahun tertakdir untuk di manfaatkan oleh ummat dan manusia yang terpilih untuk menyebarkan dan mengamalkannya yaitu Wali yang masyhur dengan panggilan “Bujuk Batu Ampar”. Asma ini di kenal sebagai asma multi fungsi, terkenal dengan nama “Asma Songai Rajjeh” atau di sebut juga “Asma Nakaban”. Asma yang di turunkan langsung oleh Nabi Khidir kepada beliau.
Dikisahkan, saudara Sayyid Abdul Mannan (Bujuk Kasambih) yang bernama Sayyid Moh Jazuli yang berjuluk Bujuk Demang Prawira meninggalkan kediamannya menuju pesisir selatan guna bertafakkur disana. Seperti saudara-saudara beliau yang lain, tanpa terasa waktu berjalan seiring perjalanan batinnya menghadap sang kekasih. Tak tertulis berapa waktu yang beliau tempuh dalam kefanaannya bersama Allah. Namun para pecinta jejak wali Batu Ampar meyakini beliaupun tak kalah hebat Mujahadahnya dengan saudara-saudaranya yang lain. Hingga akhirnya Allah memberikan perkenan kepada Beliau untuk berguru langsung kepada Nabi Mulia Khidir Alaihis Salam. Atas kehendak Allah, terjadilah bai’at Asma Songai Rajjeh ( Asma Nakaban ) kepada Beliau untuk di sebarkan sebagai benteng umat Islam yang kokoh.
Dari beliau Sayyid Jazuli, Asma ini mengalir kepada saudaranya yang mulia Sayyid Abdurrahman dengan panggilan Bujuk Kasambih. Kisah yang menarik dari karamah Sayyid Abdul Mannan Kasambih di antaranya, dahulu ada jawara pilih tanding di Madura yang di takuti baik oleh kawan maupun lawan. Bahkan Belanda waktu itu sampai putus asa untuk menundukkanya. Beliau seorang pejuang yang beringas dan agresif. Pantang mundur bila urusannya melawan Belanda dan kejahatan, namun beliau mempunyai kelemahan tidak senang bila ada yang di anggap menyaingi kehebatanya. Seluruh jawara pulau Madura ada di bawah wibawanya. Bahkan karena ambisinya beliau pernah menantang kesaktian Kyai Moh Hasan Genggong, Probolinggo, tercatat ada dua orang yang beliau tunduk akan petuahnya. Pertama Sayyid Abdul Mannan sebagai gurunya dan Kyai Moh Hasan Genggong orang yang pernah menaklukkanya.
Kisah menariknya, ternyata Pak Sakerah yang di jadikan simbol keperkasaan orang Madura adalah murid pertama penerima bai’at Songai Rajjeh. Proses bai’at yang di lakukan oleh sang walipun tergolong unik sat bai’at Sayyid mengelupas dahi Pak Sakerah dengan tangannya lalu di tulislah Asma Sungai Rajeh langsung menyatu dengan darah dagingnya. Setelah selesai prosesi bai’at Beliau tutup kembali kulit dahi Pak Sakerah, Subahaanallah kulit itu menyatu kembali seperti tak terjadi suatu apapun. Untuk menguji keampuhan warisan ilmu tersebut, maka di ajaklah Pak Sakera ke rel kereta api yang di buat oleh Belanda waktu itu bersamaan ada kereta api Belanda sedang lewat sang Sayyid memerintahkan Pak Sakera untuk tidur di atas bantalan rel, karena perintah sang guru, Pak Sakerah dengan hati was was mengikuti perintahnya.apa yang terjadi?…..keajaiban Allah membuat Pak Sakerah bangun kembali tak kurang suatu apapun tanpa cedera. Beliau selamat dengan izin Allah berkah do’a dan bai’at sang Wali. Maha Besar Allah. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adhim.
Asma Sungai Rajeh di juluki juga “Asma Nakaban” karena ada kalimat ‘nakabannata’ dalam bait do’anya.

3.Dialog Bujuk Tompeng dan Bujuk Sarabe.

Alkisah dahulu di masa Bujuk Tompeng (Batsaniyah) ada seorang yang penuh karamah dan di hormati di daerah Pamekasan. Bujuk Sarabe namanya, karena dorongan jiwa yang di provokasi syaitan, beliau merasa risih dan kepanasan mendengar seseorang menyaingi kekeramatannya di telatah Madura, maka timbullah maksud hati untuk menjajal ilmunya agar di ketahui khalayak siapa yang pantas di pertuan guru di tanah pamekasan.
Sebelum Bujuk Sarabe berangkat, beliau persiapkan segala kemampuan dhahir bathiinnya untuk menghadapi uji kesakatian ini. Setelah tirakat mempertajam ilmu dan yakin akan kemampuannya, maka berangkatlah sang Bujuk ke daerah batu ampar untuk mengunjungi sang Bujuk Tompeng lengkap dengan membawa keris Aji dan para pengawal dari para murid jawaranya.
Ketika itu, putra Bujuk Tompeng,yang bernama Su’adi yang dikenal dengan Abu Syamsuddin masih dalam masa kanak-kanak. Beliau saat kejadin itu sedang bermain layang-layang di pematang sawah dengan asyiknya. Tiba-tiba Su’adi kecil di kejutkan oleh suara orang menyapa padanya. Ternyata Bujuk Sarabe dan anak buahnya sedang kebingungan mencari rumah Bujuk Tompeng. Bujuk Sarabe tidak sadar, anak kecil yang dia sapa itu adalah putra Bujuk yang dia akan jajal kedigdayaannya.
Karena sudah berkeliling mencari kediaman Bujuk Tompeng, akhirnya Bujuk Sarabe bertanya kepada anak kecil yang bermain layangan tadi. Beliau bertanya dengan congkaknya, ”Nak, di mana rumahnya Bujuk Tompeng ? aku ingin menjajal kesaktiannya.” anak tersebut hanya menunjuk arah dalem Bujuk Tompeng yang memang di dekatnya. Bergembiralah Bujuk Sarabe karena telah dekat dengan orang yang di carinya itu. Setelah sampai disana Bujuk Sarabe menemukan penghuninya sebagai orang tua yang sederhana dan tak nampak keangkerannya. Lalu dengan nada tinggi dia bertanya kepada orang yang memang Bujuk Tompeng itu sendiri.
”ki sanak, mana yang namannya Bujuk Tompeng ? aku ingin bertemu.” .Bujuk Tompeng balik tanya dengan halus. ”untuk apa aki mencarinya?”.
”aku ingin mengadu kesaktian dengannya. Agar orang-orang tahu siapa yang pantas untuk di hormati dan di tuakan oleh mereka”,jawab Bujuk Sarabe.
”kisanak, ilmu itu bukan untuk di pertontonkan, apalagi untuk menyakiti orang lain, tapi ilmu itu untuk kebajikan dan menolong orang yang sedang kesusahan”, Bujuk Tompeng menimpali.
Bujuk Sarabe dengan ketus menyela ”pak tua,jangan banyak omong.mana Bujuk Tompeng.aku sudah bersusah payah kesini ingin mengalahkannya dalam adu kesaktian”.sang Bujuk mnjawab dengan santai.
”Ma’af kisanak,dalam dua tahun ini berapa kali kisanak buang angin (ngentut)?begitu berani kisanak mau menantang Bujuk tumpeng”.Bujuk Sarabe menjawab dengan sombongnya,
”hahaha…aku buang angin dua kali dalam setahun.mana dia berani menghadapiku”.Bujuk Tompeng menjawab dengan tenang.
”sebaiknya kisanak kembali ke tempat kisanak,kl kisanak sudah selama dua tahun tidak pernah buang angin (ngentut),kisanak kesini lagi”.dengan marah Bujuk Sarabe langsung menyuruh anak buahnya mencabut senjata mereka dan menghabisi orang tua itu.

Bluaaarrrrr…..bagai suara bledek di siang bolong, semua senjata anak buah BUJUKSarabe sudah tinggal warangkanya saja, senjatanya hilang entah kemana, yang lebih ajaib, Bujuk Sarabe merogoh gagang keris pusakanya dengan gemeter, karena dia tidak menemukan kerisnya ada di tempatnya.
Merasa telah kalah digdaya, sebagai pendekar ksatria beliau bersimpuh meminta ma’af dan berjanji akan bertaubat dan mengamalkan ilmunya untuk kebaikan beliau Sarabe berujar, ”Tuan torhormat, boleh tahu siapa Anda ?”.

“Ya..aku yang bernama batsaniyah.orang memenggilku Bujuk Tompeng “ jawab beliau.
Bertambahlah kecintaan dan kata’dhiman Bujuk Sarabe kpd beliau, karena selain digdaya beliau mempunyai akhlak santun dan mulia. Sebelaum pamit Bujuk Sarabe memohon agar senjata pusaka mereka di kembalikan seperti semula. Lalu Bujuk menunjuk agar mereka bertanya kepada anak yang bermain layangan di sawah yang pernah mereka temui sebelumnya. Ternyata anak itu bernama Su’adi putra Bujuk Tompeng.
Atas petunjuk Bujuk Tompeng, rombongan Bujuk Sarabe menuju ke tempat Su’adi yang sedang bermain layang-layang. Sebelumnya mereka meminta ma’af dan memohon agar Su’adi berkenana mengembalika pusaka mereka. Anak itu tanpa menjawab menunjukkan bahwa senjata mereka ada di atas tumpukan kotoran sapi (bahasa Maduranya laththong). Dari kisah inilah tersebar gelar untuk anak itu sebagai Bujuk Lathong,karena walau masih anak-anak sudah dapat mengalahkan orang digdaya dengan melumpuhkan mereka tanpa sadar.dan momentnya berhubungan dengan kotoran sapi (Lathong).
Begitulah sebagian kisah manaqib kemulyaan mereka para wali Batu Ampar. kekasih Allah yang bermujahadah untuk kemaslahatan umat manusia.amiin barakallahu lana walakum bi sababihim, wabihubbina ilahim min auliyaa ihiil muhibbiiin…

Bersambung >> Bag-4
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/01/jejak-para-sesepuh-batu-ampar-madura-3/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar